Karakter Karbu Vakum Dan Konvensional

Pahami Perbedaan Karakter Karbu Vakum Dan Konvensional

Gue pilih karburator vakum,” ungkap Dodi, sementara temannya, Irfan bersikeras menggunakan karbu manual. “Lebih enak!” kelitnya.  Nah, seperti apa sih, kedua karburator itu? Apalagi sekarang sudah banyak yang mengaplikasi alat pengabut vakum sebagai peranti standar.

 


Karburator vakum, lebih hemat bahan bakar

Membran, kerap sobek jika sudah lama

Pada karbu manual skep bergerak dengan kabel grip gas

Spuyer antara kedua jenis karburator sama saja
.

 

Keuntungannya apa? “Karburator vakum bisa menyesuaikan suplai bahan bakar dan udara dengan kebutuhan kinerja mesin,” ungkap Sutrisno dari Jawa Motor.  Maksudnya, suplai bensin dan udara akan menyesuaikan dengan gerak piston alias daya sedot mesin ketika sedang bekerja.Jadi, skepnya akan bergerak naik tidak hanya mengandalkan putaran grip akselerator saja. Bisa saja putaran grip dipelintir habis, skepnya tetap akan terangkat bertahap, sesuai putaran mesinnya.

Berbeda dengan karburator manual, throttle akan terbuka sesuai putaran grip gas, jadi bahan bakar dan udara akan tersalurkan sesuai bukaan tersebut. Meski, kebutuhan dalam ruang bakar belum memerlukannya, otomatis bahan bakar terbakar lebih banyak sehingga motor menjadi lebih boros. Akibatnya piston menjadi cepat kotor dan menimbulkan kerak di mesin.

Itulah sebabnya karburator vakum lebih irit dibandingkan dengan karburator manual. Tetapi, semua ada kelebihan kekurangannya tentu. Urusan akselerasi, pastinya karburator manual akan sedikit lebih responsif terhadap mesin ketimbang vakum yang hanya mengandalkan isapan dari piston untuk pergerakan skepnya.

“kelemahan karbu vakum ini, adalah pada membran karet vakum atau vacuum diapraghmanya “Ini memang untuk jangka waktu cukup lama, misal 3 tahun, tetapi pasti akan terjadi,” ujar Tris, setiap komponen pasti memiliki batas usia pakai, elastisitas bahan karet berkurang seiring dengan usia penggunaan.  Karena dipakai cukup lama,  membran atau vacuum diapraghma ini akan aus, bisa saja ada bagian yang sobek, meski kecil, atau juga membrannya melebar dari ukurannya. Kalau sobek, biasanya diganti dengan yang baru.Karburator vakum ini sangat bergantung pada kevakuman ruang bakar alias kekosongan udara agar bisa responsif terhadap isapan piston dari ruang bakar. Nah, hal ini berhubungan dengan membran yang ada di atas skep untuk menggerakkan skep itu sendiri.

Lantas soal jarum skep, pada karbu vakum umumnya tak perlu mengubah ketinggian jarum, karena sudah menyatu dengan selongsong skepnya. Sementara karbu manual bisa memilih ketinggian jarum skep untuk menentukan suplai bahan bakar yang diinginkan.Tetapi, soal jetting karburator sih, sama saja. “Enggak ada bedanya, sama karburator manual,” ungkap Tris. begitu pun soal setelan anginnya, sama persis dengan karburator manual. Pembeda utama hanya ada pada membran saja.

Jadi, antara Dodi dan Irfan sebenarnya tak perlu ada permasalahan, hanya tinggal penyesuaian saja. Jika ingin berkendara ekonomis, stabil buat touring dan perjalanan jauh, peduli pada emisi, sebaiknya pilih karburator vakum, sementara bila ingin tarikan sedikit responsif  bisa menggunakan karburator manual seperti pilihan Irfan, tentunya dengan resiko  borosnya bbm yang akan dikonsumsi motor.

Tentunya karakter dan gaya berkendara setiap orang juga menentukan pilihan penggunaan dua piranti penyuplai bahan bakar ini. Wassalam.

Tips Karburator Vakum

Karburator Vakum, Hindari Debu dan Kompresor

 


Benda tajam dan kompresor pemicu karet bocor

 

Sesuai sistem kerjanya yang lebih stabil mensuplai gas bakar, karburator tipe CV (Constant Velocity) didukung karet vakum untuk buka-tutup piston skep. Namun terbukti jauh lebih senstitif dibanding tipe PV (Piston Valve). Apa sebab? Konon peranti yang menjadi cikal bakal fuel injection ini, gerak piston skep enggak ditarik grip gas, melainkan dari kebalikan piston saat mengisap udara dan bahan bakar. Semakin besar isapan, ruang di karet vakum semakin rendah hingga dapat mengangkat piston skep ke atas.

Karena alasan itu, wajar kalau perlakukan atas karbu CV sedikit berbeda walaupun prinsip perawatannya sama. Pastikan ruang di bagian dalam karbu CV harus bersih dari debu dan kotoran yang jadi penyebab timbulnya kerak. Soale, kerak itu pemicu gerak piston skep lambat bahkan terkunci.


Jangan lepas filter dan sering ganti filter baru

Makanya biasakan mengganti filter udara sesuai prosedur waktu penggantian. “Usahakan selalu pakai filter udara dan jangan sampai dilepas, karena udara di luar belum tentu bersih dari debu atau partikel penyebab kerak di piston skep,” ujar Didin Rosidin, mekanik Castrol Bike Point Oryx Motor di Soreang, Bandung.

Selain rajin ganti filter udara, karet vakum yang ada di kepala karbu CV usahakan jangan sering diutak-atik jika memang tidak harus dilepas. Apalagi karet diafragma itu rentan benda tajam apalagi udara bertekanan tinggi.

Kalau enggak ada masalah dengan kevakuman, karet vakum disarankan jangan sering dilepas apalagi dicuci pakai cairan penyebab karet jadi kaku. “Jangan pula biasakan karet vakum atau lubang venturinya dibersihkan pakai bantuan udara bertekanan atau angin kompresor. Dikhawatirkan justru malah akan merusak atau bahkan merobek karet vakum,” timpal Eksa Syahputra alias Medi, mekanik dari Medi Speed di Jl. Harsono RM, Ragunan, Jakarta Selatan.

Dan yang harus jadi perhatian lebih adalah buat tunggangan atau motor yang sudah mengadopsi karbu CV, biar komponennya lebih awet dianjurkan untuk membiasakan menggunakan bahan bakar unleaded (non timbel).

Itu karena timbel yang enggak ikut terisap akan menumpuk di bodi piston skep. Alhasil, gerak skep jadi semakin lambat.

Sumber: (motorplus-online.com)